VISI
“Terwujudnya Desa Libureng yang maju, lebih unggul, berdaya saing, berprestasi, berbudaya, kreatif dan sejahtera melalui peningkatan sumber daya manusia, kemampuan ekonomi dan kepedulian sosial masyarakat dan pemerataan pembangunan di berbagai bidang berlandaskan religius, kultural dan kearifan budaya lokal.”
MISI
- Meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) bagi aparatur pemerintah desa dan mengedepankan profesionalisme dalam pelayanan publik.
- Mengoptimalkan Penyelenggaraan Pemerintahan Desa yang mengayomi, harmonis, dinamis, transparan, bersih, dan bebas dari Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) melalui reformasi birokrasi serta pelayanan yang efektif dan efisien.
- Penertiban Administrasi Pemerintah Desa, serta meninjau kembali kebijakan-kebijakan pemerintah desa yang tidak sesuai atau tidak sejalan dengan aspirasi masyarakat.
- Meningkatkan Jiwa Gotong Royong dan partisipasi swadaya masyarakat serta sektor swasta dalam kegiatan pembangunan dan kemasyarakatan desa.
- Menggali Potensi Desa untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PAD).
- Meningkatkan Kerukunan dan Kerjasama Antar Lembaga Desa guna memperkuat sinergi dalam pembangunan.
- Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat dan kemampuan daya saing sosial ekonomi.
- Program Pembinaan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak serta masyarakat penyandang disabilitas, untuk mewujudkan keadilan sosial.
- Program Bantuan Bedah Rumah bagi warga miskin atau yang tergolong kurang mampu, untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.
- Program Pendampingan Khusus bagi Kelompok Tani, Perikanan, dan Perkebunan dengan bekerja sama dengan pihak terkait demi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat.
- Program Bantuan Modal Usaha bagi masyarakat yang memiliki usaha kecil, dalam rangka peningkatan
BAGAN Desa Libureng
Struktur Organisasi Pemerintahan Desa
SEJARAH Desa Libureng
Sejarah Desa Libureng
Tidak ada informasi pasti tentang sejarah awal mula terbentuknya Desa Libureng yang dulunya dikenal dengan Laputteng. Namun perubahan dari Laputteng menjadi Desa Libureng terjadi seiring dengan reorganisasi administratif yang dilakukan setelah kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu sekitar 1950-an ketika struktur pemerintahan tradisional diubah menjadi sistem pemerintah desa modern. Perubahan ini biasanya dilakukan dalam konteks penataan ulang wilayah-wilayah administratif di seluruh Indonesia dimana kampung-kampung kecil diintegrasikan ke dalam struktur desa yang lebih formal dan diakui secara hukum oleh pemerintah pusat.
Cerita tentang terbentuknya Laputteng yang kemudian menjadi Desa Libureng memang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Setidaknya ada dua cerita yang sering dikaitkan dengan sejarah terbentuknya Desa Libureng yaitu cerita tentang seorang bangsawan dari Luwu yang diberi gelar Opu dan kisah tentang ular yang dinamai “Ular Putteng”.
- Cerita tentang Opu dari Luwu
Legenda tentang Opu dari Luwu yang mendarat di wilayah yang dulunya dikenal dengan Laputteng merupakan bagian menarik dari sejarah lisan tentang sejarah Desa Libureng. Kisah ini menceritakan tentang seorang bangsawan dari Luwu yang digelari Opu berlayar keliling sulawesi. Ketika perahunya mendekati Teluk Bone, mereka bersandar ke daratan untuk mencari makanan.
Saat Opu menemukan tempat untuk melakukan pendaratan, lalu sekelompok orang berteriak “Opu Te” yang artinya “Opu Mendarat” atau “Opu Naik”. Dari teriakan inilah, tempat tersebut kemudian dinamai “Laputteng”. Nama ini berasal dari kata “Opu Te”, sebagai bentuk penghormatan terhadap kejadian penting tersebut.
Suatu malam Opu bermimpi tentang seorang wanita cantik yang tubuhnya memancarkan cahaya. Mimpi tersebut ternyata membuat Opu merasa terdorong untuk mencari wanita tersebut yang dianggap sebagai pertanda penting.
Keesokan harinya, Opu mengumpulkan para pengikutnya dan masyarakat untuk merundingkan mimpinya. Dalam rapat tersebut, diputuskan untuk membagi kelompok pencarian ke empat arah yaitu utara, timur, selatan dan barat guna memperluas pencarian wanita yang dimaksud dalam mimpi. Rapat itu diakhiri dengan keputusan bulat dari seluruh peserta tanpa ada campur tangan dari daerah lain.
Karena kesepakatan yang dicapai dengan mufakat penuh dan bulat, tempat rapat itu kemudian dinamai “Libureng” yang dalam bahasa setempat berarti “bulat” atau “utuh”. Nama ini menceriminkan kesatuan pendapat dan komitmen bersama dari masyarakat saat itu. Nama tersebut kemudian melekat sebagai nama wilayan yang dikenal sekarang sebagai Desa Libureng.
- Mitos Ular Putteng
Cerita lain yang juga sering dikaitkan tentang Desa Libureng dengan nama sebelumnya Laputteng adalah kisah tentang banyaknya ular Putteng yang menghuni wilayah ini. Ular-lar tersebut dikenal dengan nama “Ular Putteng”. Ada kemungkinan nama “Laputteng” sendiri berasal dari kata “Putteng” yang merujuk pada jenis ular tersebut. Dalam mitos atau ceita rakyat, ular sering kali dianggap sebagai makhluk yang memiliki kekuatan atau pengaruh mistis, dan keberadaannya bisa jadi dianggap penanda khusus.
Meskipun cerita tersebut tidak memiliki sumber yang bisa dijadikan bukti kuat tentang kebenaran dan keabsahannya akan tetapi cerita tersebut dapat memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat setempat melihat asal-usul kampung ini. Cerita seperti ini seringkali mencerminkan nilai-nilai budaya, keyakinan dan penghargaan masyarakat terhadap lingkungan mereka. Keberadaan kedua cerita tersebut juga menunjukkan betapa pentingnya cerita lisan dalam mempertahankan identitas dan sejarah suatu wilayah.
Terlepas tentang sejarah asal usul namanya, Desa Libureng juga memiliki sejarah kepempimpina yang cukup panjang. Awalnya, desa ini dipimpin oleh Andi Padjojongi sebagai Kepala Desa pertama. Namun, Andi Padjojjongi meninggal dunia saat masih menjabat yang kemudian digantikan oleh seorang Pejabat Sementara (PJs) dari Pemerintah Kecamatan Tonra. Kemudian, kepempinan Desa Libureng dilanjutkan oleh putra Andi Padjojjongi, yaitu Andi Sudarno, BA yang menjabat sebagai Kepala Desa Defenitif selama dua periode hingga tahun 2008. Setelah masa jabatannya berakhir, kepemimpinan diteruskan oleh A. Muh. Idris, yang memimpin dari tahun 2008 hingga 2014.
Setelah A. Muh. Idris menyelesaikan masa jabatannya, Drs. Andi Bambang Hermanto, yang saat itu menjabat sebagai Camat Tonra, menjadi penjabat Kepala Desa dari Oktober 2014 hingga Desember 2015. Setelah itu, Andi Sudarno, BA kembali berhasil memenangkan Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) dan menjabat sebagai kepala Desa dari tahun 2016 hingga 2021.
Pada Pilkades 2021, Jumtu Alam A. Azis terpilih sebagai Kepala Desa Defenitif dan menjabat dengan masa periode sebelumnya tahun 2021-2027 menjadi 2021-2029. Sejarah kepemimpinan ini mencerminkan kontinuitas dan perubahan yang terjadi di Desa Libureng selama beberapa dekade terakhir.
PETA Desa Libureng