VISI
“Terwujudnya Desa RRDigital sebagai Desa Cerdas (Smart Village) Terdepan di Kabupaten Bogor yang Inovatif, Mandiri, dan Sejahtera Berlandaskan Teknologi Berkelanjutan serta Kearifan Lokal.”
MISI
Untuk mewujudkan Visi tersebut, Desa RRDigital menetapkan langkah-langkah strategis melalui Misi berikut:
1. Transformasi Pelayanan Publik Berbasis Digital (Digitalisasi)
-
Mewujudkan tata kelola Pemerintahan Desa yang transparan, akuntabel, dan bebas birokrasi berbelit melalui sistem administrasi dan pelayanan publik berbasis online terpadu.
-
Memastikan setiap warga memiliki akses internet dan literasi digital dasar melalui penyediaan infrastruktur jaringan yang merata.
2. Pemberdayaan Ekonomi dan UMKM (Kemakmuran)
-
Meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mendorong transformasi digital bagi para pelaku UMKM dan petani lokal (pemanfaatan e-commerce, digital marketing, dan tekfin).
-
Menciptakan ekosistem ekonomi kreatif dan membuka lapangan kerja baru berbasis teknologi informasi bagi pemuda karang taruna.
3. Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Manusia (Inovasi)
-
Menyelenggarakan program pelatihan dan pendidikan vokasi teknologi secara berkala untuk menciptakan SDM yang unggul, inovatif, dan siap bersaing di era digital.
-
Memfasilitasi ruang inkubasi dan kolaborasi (seperti Taman Teknologi RRD) bagi warga untuk mengembangkan ide-ide kreatif dan solusi pintar berbasis komunitas.
4. Pembangunan Infrastruktur yang Cerdas dan Ramah Lingkungan
-
Membangun dan memelihara infrastruktur desa yang mengintegrasikan teknologi cerdas (Internet of Things/IoT), seperti sistem keamanan desa pintar (CCTV terintegrasi) dan pengelolaan lampu penerangan jalan cerdas.
-
Menerapkan teknologi tepat guna untuk pengelolaan sampah dan pelestarian lingkungan hidup demi kelestarian alam Cibinong.
5. Pelestarian Budaya dan Nilai Sosial
-
Memanfaatkan platform digital sebagai media pelestarian dan promosi budaya lokal, sejarah, serta potensi pariwisata Desa RRDigital.
-
Menjaga semangat gotong royong, toleransi, dan kerukunan antarwarga agar tetap solid meskipun berada di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang pesat.
BAGAN Desa Libureng
Struktur Organisasi Pemerintahan Desa
SEJARAH Desa Libureng
Sejarah Desa RRDigital
Tidak ada informasi pasti tentang sejarah awal mula terbentuknya Desa Libureng yang dulunya dikenal dengan Laputteng. Namun perubahan dari Laputteng menjadi Desa Libureng terjadi seiring dengan reorganisasi administratif yang dilakukan setelah kemerdekaan Republik Indonesia, yaitu sekitar 1950-an ketika struktur pemerintahan tradisional diubah menjadi sistem pemerintah desa modern. Perubahan ini biasanya dilakukan dalam konteks penataan ulang wilayah-wilayah administratif di seluruh Indonesia dimana kampung-kampung kecil diintegrasikan ke dalam struktur desa yang lebih formal dan diakui secara hukum oleh pemerintah pusat.
Cerita tentang terbentuknya Laputteng yang kemudian menjadi Desa Libureng memang memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Setidaknya ada dua cerita yang sering dikaitkan dengan sejarah terbentuknya Desa Libureng yaitu cerita tentang seorang bangsawan dari Luwu yang diberi gelar Opu dan kisah tentang ular yang dinamai “Ular Putteng”.
- Cerita tentang Opu dari Luwu
Legenda tentang Opu dari Luwu yang mendarat di wilayah yang dulunya dikenal dengan Laputteng merupakan bagian menarik dari sejarah lisan tentang sejarah Desa Libureng. Kisah ini menceritakan tentang seorang bangsawan dari Luwu yang digelari Opu berlayar keliling sulawesi. Ketika perahunya mendekati Teluk Bone, mereka bersandar ke daratan untuk mencari makanan.
Saat Opu menemukan tempat untuk melakukan pendaratan, lalu sekelompok orang berteriak “Opu Te” yang artinya “Opu Mendarat” atau “Opu Naik”. Dari teriakan inilah, tempat tersebut kemudian dinamai “Laputteng”. Nama ini berasal dari kata “Opu Te”, sebagai bentuk penghormatan terhadap kejadian penting tersebut.
Suatu malam Opu bermimpi tentang seorang wanita cantik yang tubuhnya memancarkan cahaya. Mimpi tersebut ternyata membuat Opu merasa terdorong untuk mencari wanita tersebut yang dianggap sebagai pertanda penting.
Keesokan harinya, Opu mengumpulkan para pengikutnya dan masyarakat untuk merundingkan mimpinya. Dalam rapat tersebut, diputuskan untuk membagi kelompok pencarian ke empat arah yaitu utara, timur, selatan dan barat guna memperluas pencarian wanita yang dimaksud dalam mimpi. Rapat itu diakhiri dengan keputusan bulat dari seluruh peserta tanpa ada campur tangan dari daerah lain.
Karena kesepakatan yang dicapai dengan mufakat penuh dan bulat, tempat rapat itu kemudian dinamai “Libureng” yang dalam bahasa setempat berarti “bulat” atau “utuh”. Nama ini menceriminkan kesatuan pendapat dan komitmen bersama dari masyarakat saat itu. Nama tersebut kemudian melekat sebagai nama wilayan yang dikenal sekarang sebagai Desa Libureng.
- Mitos Ular Putteng
Cerita lain yang juga sering dikaitkan tentang Desa Libureng dengan nama sebelumnya Laputteng adalah kisah tentang banyaknya ular Putteng yang menghuni wilayah ini. Ular-lar tersebut dikenal dengan nama “Ular Putteng”. Ada kemungkinan nama “Laputteng” sendiri berasal dari kata “Putteng” yang merujuk pada jenis ular tersebut. Dalam mitos atau ceita rakyat, ular sering kali dianggap sebagai makhluk yang memiliki kekuatan atau pengaruh mistis, dan keberadaannya bisa jadi dianggap penanda khusus.
Meskipun cerita tersebut tidak memiliki sumber yang bisa dijadikan bukti kuat tentang kebenaran dan keabsahannya akan tetapi cerita tersebut dapat memberikan gambaran tentang bagaimana masyarakat setempat melihat asal-usul kampung ini. Cerita seperti ini seringkali mencerminkan nilai-nilai budaya, keyakinan dan penghargaan masyarakat terhadap lingkungan mereka. Keberadaan kedua cerita tersebut juga menunjukkan betapa pentingnya cerita lisan dalam mempertahankan identitas dan sejarah suatu wilayah.
Terlepas tentang sejarah asal usul namanya, Desa Libureng juga memiliki sejarah kepempimpina yang cukup panjang. Awalnya, desa ini dipimpin oleh Andi Padjojongi sebagai Kepala Desa pertama. Namun, Andi Padjojjongi meninggal dunia saat masih menjabat yang kemudian digantikan oleh seorang Pejabat Sementara (PJs) dari Pemerintah Kecamatan Tonra. Kemudian, kepempinan Desa Libureng dilanjutkan oleh putra Andi Padjojjongi, yaitu Andi Sudarno, BA yang menjabat sebagai Kepala Desa Defenitif selama dua periode hingga tahun 2008. Setelah masa jabatannya berakhir, kepemimpinan diteruskan oleh A. Muh. Idris, yang memimpin dari tahun 2008 hingga 2014.
Setelah A. Muh. Idris menyelesaikan masa jabatannya, Drs. Andi Bambang Hermanto, yang saat itu menjabat sebagai Camat Tonra, menjadi penjabat Kepala Desa dari Oktober 2014 hingga Desember 2015. Setelah itu, Andi Sudarno, BA kembali berhasil memenangkan Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) dan menjabat sebagai kepala Desa dari tahun 2016 hingga 2021.
Pada Pilkades 2021, Jumtu Alam A. Azis terpilih sebagai Kepala Desa Defenitif dan menjabat dengan masa periode sebelumnya tahun 2021-2027 menjadi 2021-2029. Sejarah kepemimpinan ini mencerminkan kontinuitas dan perubahan yang terjadi di Desa Libureng selama beberapa dekade terakhir.
PETA Desa Libureng